Friday, January 18, 2013

kesenian india


Kesenian India

Kesenian India bermula dari Dinasti Maurya, iaitu pada tahun 132 sebelum Masehi. Di peringkat awal, kesenian India berasaskan kepada agama. Menurut TSG. Mulya (1952: 15), perpindahan bangsa Arya ke India berlangsung pada suatu masa yang berabad-abad lamanya dan dapat juga dibuktikan kalau dibandingkan syair-syair Weda yang tertua dengan yang terkemudian. Penyelidikan ini menyatakan bahawa mula-mulanya sungai Indus dianggap sebagai sungai yang keramat dan menjadi sumber dari sekalian kebaikan bagi orang Arya. Bangsa Arya adalah bangsa yang berasal dari Asia Barat.

            India merupakan salah satu negara dengan perkembangan seni dan arsitektur yang pesat. Setiap tempoh peradaban, pemerintahan, kepercayaan, mahupun wilayah memiliki perbedaan langgam arsitektur yang memperkaya karya seni dan arsitektur India.

            Perkembangan seni dan arsitektur India dimulai di lembah sungai Indus, iaitu peradaban Harappa dan Mohenjodaro pada abad 2500 SM. Namun, pada abad 1600 SM semua peninggalan peradaban Harappa dan Mahenjodaro mengalami kehancuran. Pada abad 150 SM, arsitektur yang berkembang di India berupa rumah-rumah vernakular, dengan material kayu.


Dinasti Mauria

      Dinasti Mauria merupakan dinasti kerajaan pertama yang mampu menguasai hampir seluruh daratan India yang berdiri atas usaha Chandragupta Mauria. Ia mengusir koloni-koloni Yunani yang ditinggalkan pasukan Iskandar Agung. Pusat kerajaan ini berada di Pataliputra. Raja terkenal dari dinasti ini adalah Raja Ashoka. Peninggalan seni rupa semasa dinasti Mauria boleh dilihat pada Pilar dan tugu Ashoka, Gua buatan dari batu cadas dan Stupa.

                                                           
                                                               Pilar Dan Tugu Ashoka





          
Karya seni yang paling menonjol pada masa ini ialah Pilar dan tugu Ashoka. Meskipun konsep pilar sudah ditemui sebelum Dinasti Mauria dan tetap bertahan setelahnya, namun kapital Ashoka adalah suatu ciri yang khas.

    Salah satu yang masih utuh dan diteliti adalah yang terdapat di Lauriya Namdangarh di Propinsi Bihar. Bentuk kapitalnya adalah kuartet singa yang menduduki lonceng besar terbalik. Keempat singa ini saling membelakangi dan menopang roda besar di atas kepalanya. Kapital Ashoka di Lauriya Namdangarh terbuat dari batu pasir setinggi 32 kaki dan berat 50 ton. Diperlukan pengetahuan teknik yang baik untuk membuat tugu ini berdiri.


    Bentuk Gua buatan dari batu cadas merupakan awal dari Chaitya. Ia dibentuk dengan memotong bahagian tengah batu cadas sehingga terbentuk ruang pemujaan. Kemungkinan besar seni bangunan ini adalah pengaruh kebudayaan Persia yang dikenal ahlinya dalam mengolah batu. Contoh paling baik dari bangunan ini adalah Gua di Lomas Rishi. Meskipun terbuat dari batu, namun motif hiasnya memperlihatkan usaha meniru tekstur kayu. Pintu gua berupa lengkungan yang terlihat seolah menyokong bangunan utama.

                                        

     
  Stupa Sanchi         


 



     Di samping itu, stupa juga sudah ditemukan pada masa ini meskipun masih menjadi bahagian dari bangunan lain dan belum menjadi pusat pemujaan. Stupa dibuat untuk menyimpan relik-relik dan abu

   Buddha dan menjadi pusat pelaksanaan ritual. Puluhan ribu stupa yang dibangun pada masa Mauria akhirnya hilang dimakan usia kerana pembuatannya tidak menggunakan pertimbangan bahan yang matang. Penguasa pada masa itu lebih memilih stupa dari kayu daripada batu yang kokoh. Salah satu stupa yang bertahan adalah Stupa Sanchi yang kemudian direnovasi menjadi lebih megah pada periode Dinasti Andhra.


Dinasti Ashoka
Semasa kejayaan kerajaan maghada adalah pada masa pemerintahan Asoka. Ashoka vardhana memerintah India (maghada) tahun 272-232 SM. Ashoka mempunyai keterampilan memimpin kerajaan yang luar biasa hebatnya. Masa Ashoka yang menjadi titik sentral kekuatan kerajaan adalah angkatan perang. Dengan kuatnya angkatan perang Maghada maka, Maghada menjadi kerajaan yang disegani kawan mahupun lawan. Ashoka juga banyak menakulkan di daerah-daerah sekitar India, seperti Gandara, Kabul, Jonas, Kamboja, Godavari, Krisna, Mysore, Supara dan Girnar, dan daerah-daerah lainnya. Luas kerajaan Maghada saat itu melebihi luas negara India pada saat sekarang.

      Agama Buddha mencapai puncak kejayaannya pada zaman kekuasaan Raja Asoka (273-232 SM) yang menetapkan agama Buddha sebagai agama resmi negara. Tempat-tempat suci umat Buddha antara lain Bodh-Gaya, tempat bersemedi Sidharta Gautama.Selain banyak melakukan penaklukan, Ashoka juga banyak meninggalkan jejak sejarah yang berbentuk tulisan yang kemudian menjadi sumber sejarah yang cukup penting hingga sekarang. Banyak prasasti yang ditinggalkan pada dinding-dinding dan tiang batu yang berisi tentang peristiwa, undang-undang, pesan perdamaian, mahupun ajaran dan pesan-pesan Ashoka.

     Pada masa Ashoka terdapat peristiwa besar yang sulit dilupakan oleh para sejarawan. Peristiwa tersebutlah yang akhirnya berubah haluan jalan hidup Ashoka dari penganut Hindu menjadi seorang yang memeluk Agama Budha. Peristiwa tersebut adalah perang Kalingga. Menurut sumber yang ada, Ashoka memimpin perang tersebut sendiri. Sebanyak kurang lebih 100.000 nyawa orang Kalingga melayang dan dijadikan budak. Sedangkan masih banyak lagi yang akhirnya mati kerana kelaparan. Sejak saat ia berubah haluan, dan tidak mahu lagi memakai kekerasan dalam hidupnya. Ia mulai mementingkan Agama Buddha seperti yang telah disinggung sebelumnya.

      Meskipun hanya sebagai Upasa (pengikut atau penganut biasa) sahaja, dia juga sudah menerapkan larangan berburu haiwan, dan tidak boleh menyembelih burung merak dan rusa. Dia juga berusaha menyiarkan hukum Dharma. Salah satunya adalah dengan mengangkat pegawai-pegawai tinggi yang dinamakan.

     Kepercayaan bangsa Arya didasarkan pada ajaran Veda, yang menjadi awal munculnya agama Vedic dan dianut kaum Brahmana. Dari agama kuno inilah kemudian agama Hindu muncul. Agama ini memuja tiga dewa utama yaitu Vishnu, Brahma, dan Shiva. Pada zaman Vedic sendiri, masyarakat sudah diklasifikasi menjadi empat kelas atau strata, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Klasifikasi tersebut didasarkan pada mata pencaharian masyarakat saat itu.

     Agama Hindu dan Budha berkembang hampir secara bersamaan. Penerapan pada bidang arsitektur dan seni muncul pada bangunan kuil. Teknologi yang digunakan pertama kali adalah penggunaan material kayu, namun sayangnya tidak ada peninggalan bangunan jenis tersebut kerana sudah hancur termakan waktu dan cuaca. Teknologi yang berkembang selanjutnya adalah membangun dengan metode pahat batu (rock cut). Metode ini dilakukan dengan memahat sebongkah besar batu ataupun mencoak gunung, sehingga hasil karya seni dan arsitekturnya mirip seperti patung.

     Metode pahat batu dibagi menjadi dua jenis, yang pertama adalah dengan mencoak ke dalam sebuah gunung atau bukit sehingga menciptakan ruang ke dalam. Yang kedua adalah dengan cara memahat sebongkah batu dan tidak membuat ruang di dalamnya. Bentuk yang pertama lebih meruang daripada yang kedua. Contoh kuil jenis yang pertama adalah kuil di Elaphanta dan Ellora. Mamallapuram adalah contoh kuil yang dibangun dengan metode pahat batu jenis kedua. Di kuil tersebut terdapat empat jenis ratha yang memiliki perbedaan pada bentuk dan pahatannya. Kuil Kailasa di Ellora menggunakan gabungan kedua metode tersebut.
       
     Pada zaman-raja-raja Maurya (322-184 SM), akibat pengaruh kebudayaan Achaemenid, Persia, tampak pula pengaruh Hellenisme. Seniman-pada saat itu beralih dari bahan terracotta untuk membuat bangunan dengan menggunakan bahan baru. Karya seni rupa yang dihasilkan pada zaman ini berupa stambha, yaitu tanda peringatan yang terbuat dari batu (monolit). Stambha yang terkenal pada masa ini adalah stambha kepala singa yang ditemukan di Sarnath, menunjukkan adanya pengaruh Persia. Bangunan lainnya adalah stupa, merupakan tanda peringatan yang sangat penting dalam kesenian Buddha. Pada mulanya, stupa berfungsi untuk menyimpan abu jenazah dan benda-benda suci. Terdapat dua stupa yang terkenal di India iaitu Stupa Barhut dan Stupa Sanchi. Disamping tempat pemujaan, seni bangunan India juga mengenal Vihara sebagai tempat para bhiksu dan tamu dari luar negeri atau sebagai tempat pendidikan, dan Chaitya Graha, iaitu tempat pemujaan yang berisi stupa. Chatya Graha ini seluruhnya dipahat pada bukit karang dengan teknik pahatan seperti teknik pahatan kayu.

     Seni patung dan seni lukis India berkembang lagi pada zaman Raja-raja Kushana (500SM – 300M). Peninggalan pada zaman ini banyak ditemukan di daerah Ghandara berupa lukisan-lukisan fresco. Seni patung pada zaman ini mendapat pengaruh Yunani, kerana daerah Ghandara merupakan daerah yang banyak dilalui bangsa-bangsa asing. Patung Buddha yang dihasilkan pada zaman ini sudah berupa patung manusia dan bukan merupakan lambang-lambang seperti pada masa sebelumnya di India Tengah. Seni rupa pada masa Kushan ini berkembang pula di daerah Mathura (50-200 M), Amarawati (150-300 M) dan mencapai puncaknya pada masa-raja-raja Gupta (300-600 SM).

Dinasti Shunga

    Dinasti Shunga (185 SM – 73 SM) didirikan oleh salah seorang Jendral Mauria bernama Pusyamitra Sunga yang beragama Brahmanisme terhadap Dinasti Mauria. Pada saat inilah pemujaan terhadap stupa semakin terkenal. Banyak vihara, chaitya, dan stupa yang dibangun. Kerajaan di bawah Dinasti Sunga memiliki keunikan tersendiri di mana mempunyai dua pusat, iaitu Pataliputra sebagai pusat administrasi serta seni dan Vidisa sebagai pusat negara, keagamaan, dan pendidikan seni. Pusat-pusat seni berada di Mathura, Pataliputra, Ahiccatra, Ayodhya, dan Kausambi.

                                                       
                                                         Kompleks Bhaja

           
      


 

   Oleh kerana penerusan kekuasaan Dinasti Mauria, ciri karyanya sama dengan masa sebelumnya. Hanya ornamennya lebih kaya dan ukurannya lebih kecil. Peninggalan seni rupa dinasti Shunga dapat dilihat pada Kompleks Bhaja, Chaitya Griha dan
elemen hias. Kompleks Bhaja adalah kompleks pemujaan yang merupakan gabungan chaitya griha dan kompleks pemujaan di sekelilingnya.

                                                   
                                                                      Chaitya Griha



           



   Selain itu, Chaitya Griha merupakan salah satu seni rupa dinasti Shunga yang terkenalv yang terletak di kompleks Bahaja. Bangunan ini adalah perkembangan lebih lanjut dari chaitya dan gua buatan semasa Dinasti Mauria. Dibentuk dengan
memotong dan melubangi batu cadas besar sehingga terbentuk ruang pemujaan. Ruang ini seolah ditopang pilar-pilar di bahagian tepi bangunan. Ciri khas chaitya pada masa ini adalah pintu berbentuk tapal kuda dan ditopang dua pilar. Manakala, elemen hias diantara seni rupa dinasti Shunga banyak ditemukan di relief-relief seperti vedika dari Stupa Barhut, Bentuk utamanya adalah medali yang dihiasi motif flora yang berulang secara geometrik.

                                                     
                                                                     Elemen hias




Dinasti Kushan

Seni rupa Kerajaan Kushan adalah bahasan mengenai peninggalan seni rupa yang berkembang selama berkuasanya Kerajaan Kushan di daerah utara India. Seni Rupa dari daerah ini memperlihatkan kekayaan pengaruh luar yang masuk ke India melalui jalan politik dan perdagangan.
Kebanyakan karya dari masa ini terinspirasi oleh ajaran Buddha. Kerajaan Kushan merupakan hasil persatuan bangsa-bangsa Indo-Eropa yang salah satu sukunya bernama Kushan, yang kemudian mendominasi suku lainnya dan membentuk persatuan baru dengan Kujula Kadphises sebagai pemimpinnya. Beberapa dari suku ini telah mendapat pengaruh Hellenisme sejak penaklukan Alexander Agung sehingga dimaklumi bahawa kebudayaan Kushan kemudian banyak mendapat pengaruh Yunani.

     Wilayah kerajaan Kushan meliputi Tajikistan hingga Pakistan dan Afganistan, kemudian terus ke selatan sampai lembah Sungai Gangga. Kushan mendapatkan kekuasaannya atas Gandhara seiring ekspansi ke arah selatan. Selanjutnya daerah ini menjadi pusat kesenian India yang terkenal dengan pengaruh gaya seni rupa hellenisme yang realistik.

     Perekonomian kerajaan hidup bersandarkan kepada perdagangan sutera dan rempah ke Eropa dan emas dan karya seni ke Tiongkok. Untuk itu, ramai pemimpin Kushan yang menciptakan wang logamnya sendiri sebagai alat tukar rasmi, sehingga perkembangan duit syiling Kushan memberikan catatan sejarah tersendiri, terutama dalam seni rupa. Walaupun dikenal sebagai bahagian-bahagian dari sejarah seni rupa Buddha, sebenarnya Kerajaan Kushan juga memiliki bahagian kepercayaan lain terhadap pendewaan, iaitu Zoroastrianisme yang merupakan pengaruh Persia.
       
     Terdapat dua aliran besar yang terkenal semasa dinasti Kushan, iaitu Gandhara dan Mathura. Kedua aliran ini terutama ditelusuri dari karya seni patung. Gaya Gandhara banyak mendapat pengaruh Hellenisme. Hal ini dapat dilihat dengan mudah dari ciri lipatan kain yang teliti dan sikap tubuh yang luas. Sementara, gaya Mathura walaupun selanjutnya juga mendapat pengaruh yang sama hingga akhirnya berkembang menjadi gaya Ghupta, tetapi berangkat dari titik tolak seni rupa asli India, yang ditelusuri dalam karya seni rupa Mahenjo Daro-Harappa.

       Tetapi realisme di dalam gaya gandhara tidak dijadikan patokan ciri seni rupa Kerajaan Kushan, mengingat ciri ini sudah ada jauh sebelumnya sebagai akibat penguasaan oleh Alexander Agung. Gaya Mathura berkembang lebih lanjut sebagai akibat posisinya sebagai salah satu ibukota dari Kerajaan Kushan. Karya seni pada tempoh ini dipengaruhi oleh kelahiran agama Kristian di Eropah. Buddha di India berubah dari Hinayana menjadi Mahayana yang bersifat luas, dan humanistik. Akibatnya mudah sekali menemukan arsitektur tempat ibadah yang menekankan ibadah bersama daripada usaha peribadi menuju nirvana. Sebagai bukti lain, banyak patung dewa-dewi dikenalkannya dengan konsep Boddhisattva, individu yang baru mencapai tahap paling akhir sebelum Buddha.

      Walaupun umumnya patung Gandhara bersifat humanistik, namun beberapa patung dibuat dengan ukuran raksasa seperti patung Buddha di Bamiyan, Afghanistan yang memiliki tinggi 53 meter. Patung ini kini telah hancur akibat kebijakkan Iconoclaust yang diambil pemerintah Taliban, Afghanistan pada masa lalu. Contoh bentuk humanistik adalah patung Athena dari Gandhara setinggi 83 cm, mendekati postur manusia asli.
      Gaya Mathura berciri sebaliknya, penuh dengan stilasi dengan ukuran tubuh kecil. Patung-patung ini banyak mewujudkan Yaksha dan Yakshi, roh spriritual dalam ajaran Buddha. Contohnya adalah patung-patung penguasa Kushan, antara lain Jayavarman dan Kanishka. Dekatnya pengaruh seni rupa Kushan, dan kebanyakan seni rupa Buddha lainnya menyebabkan timbul klasifikasi gaya Greko-Buddha dalam perkembangan sejarah seni rupa India. Pengaruh seni rupa Kerajaan Kushan, terutama gaya Gandhara, dilihat dari perkembangan pengaruh seni rupa Greko-Buddha, yang pada masa akhir keemasannya banyak mendapat kontribusi dari Kerajaan Kushan.

      Seni rupa Greko-Buddha menyebar ke selatan India, seperti Kerajaan Shunga hingga Ghupta, Asia Tengah seperti Tarim Basin (XiangJiang) dan Baktria, Asia Timur seperti Tiongkok dan Jepang. Tetapi pengaruh paling besar adalah di Asia Tenggara seperti Indonesia yang bahkan mengadopsi tulisan, ajaran Mahayana, dan arsitektur dari gaya Greko-Buddha.mPengaruh ini terutama terjadi akibat hubungan dagang dan sejarah penguasaan politik yang terjadi pada masa ekspansi Alexander Agung.

2.1  Konsep Seni India
India merupakan negara dan bangsa yang memiliki pandangan seni (dan estetika) yang berbeza dalam beberapa hal dengan bangsa Eropah.

            Seniman India harus mengikuti modus tertentu seperti yang diterangkan di dalam dyana untuk menggambarkan dewa Hindu atau Buddha yang pelbagai bentuk. Dyana bererti meditasi, merupakan proses kejiwaan dari seseorang yang berusaha untuk mengawal pemikiran dan memusatkan pada suatu soal tertentu yang akhirnya akan membawa kepada semadi. Sifat-sifat visual dari gambaran di atas (dalam semadi) kemudian di tulis dalam Silvasastra. Buku inilah yang menjadi pedoman berkarya selanjutnya. Elemen yang penting dalam seni rupa adalah intuisi mental dan sesuatu hal yang dikonsepsikan dan personalitas seniman menyatu dengan objek. Inilah hasil meditasi (dyana). Seni bukan merupakan imitasi dari alam. Teknik proporsi, perpektif, dsb diterangkan dalam Visudgarmottarapurna dan Chitra Sutra. Dalam Chitra Sutra penggambaran yang penting adalah garisan tepi yang harmonis, ekspresi, dan sikap yang molek. Di India juga mementingkan sikap dan bentuk yang simbolistis (perlambangan).

            Joganatha berpendapat bahawa keindahan seni adalah sesuatu yang menghasilkan kesenangan. Seni diolah melalui proses kreatiff dari pikiran menuju pada penciptaan objek yang dihasilkan oleh getaran emosi. Inti keindahan adalah emosi.  Pendapat lain mengatakan bahawa seni adalah sesuatu yang memberikan kesenangan tanpa rasa kegunaan. Rasa estetik tersebut adalah disebabkan kerana  faktor luaran dan faktor dalaman (Rabindranath Tagore). Beliau juga menerangkan konsep seni melalui sebuah sajaknya bahawa seni tidak dapat menerangkan proses alamiah yang misterius itu, tetapi seolah-olah terjadi dengan sendirinya. Nampaknya ada sesuatu di atas kekuasaannya sendiri yang siap menuntun impulsinya dalam suatu jalan sehingga memungkinkan memberi bentuk pada pandangan intuisinya dari dalam. Jelaslah bahawa seniman yang menciptakan objek keindahan atau seni adalah didorong oleh potensi teologis.

            Sebagai elemen dari seni bangun candi, medalion secara sintesis jelas mengikuti referensi kitab Manasara-Silpasastra suatu buku pedoman para silpin atau seniman. Banerjea, (1974: 80) menyebutkan bahawa ketika  para  silpin membangun kuil untuk dewa dan elemen-elemennya  seperti relief, arca dan unsur hias selalu menggunakan prinsip bhakti, iaitu adanya rasa cinta kasih dan menyerah kepada dewa sehingga dalam agama Hindu antara seni dengan agama tidak terpisahkan.










No comments: